Informasi ini saya dapatkan dari milis informatika angkatan saya..saya hanya meneruskan saja informasi di karenakan semakin gencarnya informasi mengenai formalin..ini mungkin bermanfaat bagi teman-teman yang membaca informasi ini. Isi informasi ini, sebagai berikut :
” Kewaspadaan karena formalin ini marak sekali digunakan
dimasyarakat. Mie basah, tahu, ikan asin, baso, dll.
seringkali ditambahkan formalin sebagai pengawetnya..
padahal formalin itu bukan pengawet lho…tapi
PEMBUNUH alias RACCUUUUNNN.
Waktu saya KP di BPOM dulu dari semua pabrik Mie basah yang dikunjungi..
semuanya positif memakai formalin. yang lebih parah
lagi pegawainya bilang.. bahwa mereka gak pake
formalin yang dilarang, tapi pake formalin buat
makanan..??!? jadinya kan lucu..?!?! ternyata pelaku
industri makanan sendiri gak tau tentang formalin.
Mana ada formalin buat makanan?!? formalin ya tetap
formalin.. tetap dilarang digunakan pada makanan.
Celakanya pada ikan ternyata penggunaan formalin
dilakukan sejak ikan itu ditangkap oleh nelayan..
karena nelayan males bawa es batu ke laut.. udah
berat, harganya mahal karena BBM naik, mereka nyari
jalan pintas pake formalin yang lebih ringkas gak
perlu tempat yang besar, tinggal pake jerigen, trus
murah lagi…Selain itu pas dibuat ikan asin
ditambahin lagi formalinnya…payahh…
Pada Tahu biasanya dari pabriknya siy gak pake
formalin (katanya..)tapi kadang ada juga sih yang
nakal.. (kayaknya).. tapi walopun dari pabriknya gak
pake formalin pada tahap distribusi dan di pedagang
eceran.. tahu di rendam pake air yang diberi
formalin.. so tetep aja nyampe dikonsumen berformalin
juga…
Nah. klo gitu gimana kita bisa aman dari
formalin…?!? sebenernya itu tugasnya pemerintah
siy.. tapi kita sebagai pelaku profesi kesehatan..
sebaiknya turut memberikan kesadaran pada masyrakat
tentang bahaya formalin ini.. (wuiss.. idealis juga
yach saya… He2..:P)
Untuk meningkatkan kewaspadaan kita terhadap formalin
ini.. ada satu metode analisa yang cukup sensitif
untuk mendeteksi formalin..gampang kok.. bisa
dilakukan di pasar.. tapi jangan didepan tukang
dagangnya.. entar marah dia..!!!
gini caranya :
Sample diambil dari rendaman bahan yang akan
dianalisa.
3 ml sample + 0.02 gr Chromotropic acid disodium salt
dehydrate
(C10H6Na2O8S2.2H2O) + 3 ml H2SO4 pekat, kocok, kalau
ungu positif
formalinnya (+), kalau kuning negatif (-). Konsentrasi
1 ppm formalin sudah jelas warna ungu nya.
Samoga bisa mambantu.
Wassalam
Mengenal Formalin dan Bahayanya
Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan metanol hingga 15 persen sebagai pengawet. Formalin dikenal sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam industri.
Nama lain formalin : - Formol - Methylene aldehyde - Paraforin
- Morbicid - Oxomethane - Polyoxymethylene glycols
- Methanal - Formoform - Superlysoform
- Formic aldehyde - Formalith - Tetraoxymethylene
- Methyl oxide - Karsan - Trioxane
- Oxymethylene - Methylene glycol
Penggunaan formalin
* Pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih : lantai, kapal, gudang dan pakaian
* Pembasmi lalat dan berbagai serangga lain
* Bahan pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak
* Dalam dunia fotografi biasaya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas
* Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea
* Bahan pembuatan produk parfum
* Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku
* Pencegah korosi untuk sumur minyak
* Bahan untuk insulasi busa
* Bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood)
* Dalam konsentrasi yag sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet.
Bahaya bila terpapar oleh formalin
Bahaya utama
Formalin sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa : luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia.
Bahaya jangka pendek (akut)
1. Bila terhirup
* Iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk.
* Kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan seperti radang paru, pembengkakan paru.
* Tanda-tada lainnya meliputi bersin, radang tekak, radang tenggorokan, sakit dada, yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual dan muntah.
* Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.
2. Bila terkena kulit
Apabila terkena kulit maka akan menimbulkan perubahan warna, yakni kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar.
3. Bila terkena mata * Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata.
* Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa mata.
4. Bila tertelan
* Apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan , sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma.
* Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal.
Bahaya jangka panjang (kronis)
1. Bila terhirup
Apabila terhirup dalam jangka lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru.
* Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi dan daya ingat berkurang.
* Gangguan haid dan kemandulan pada perempuan
* Kanker pada hidung, ronggga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak.
2. Bila terkena kulit
Apabila terkena kulit, kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan terjadi radang kulit yang menimbulkan gelembung.
3. Bila terkena mata
Jika terkena mata, bahaya yang paling menonjol adalah terjadinya radang selaput mata.
4. Bila tertelan
Jika tertelan akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada.
Tindakan Pencegahan:
1. Terhirup * Untuk mencegah agar tidak terhirup gunakan alat pelindung pernafasan, seperti masker, kain atau alat lainnya yang dapat mencegah kemungkinan masuknya formalin ke dalam hidung atau mulut.
* Lengkapi sistem ventilasi dengan penghisap udara (exhaust fan) yang tahan ledakan.
2. Terkena mata
* Gunakan pelindung mata atau kacamata pengaman yang tahan terhadap percikan.
* Sediakan kran air untuk mencuci mata di tempat kerja yang berguna apabila terjadi keadaan darurat.
3. Terkena kulit
* Gunakan pakaian pelindung bahan kimia yang cocok.
* Gunakan sarung tangan yang tahan bahan kimia.
4. Tertelan
Hindari makan, minum dan merokok selama bekerja. Cuci tangan sebelum makan.
Tindakan pertolongan pertama
1. Bila terhirup
Jika aman memasuki daerah paparan, pindahkan penderita ke tempat yang aman. Bila perlu, gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis untuk melakukan pernafasan buatan. Segera hubungi dokter.
2. Bila terkena kulit
Lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena formalin. Cuci kulit selama 15-20 menit dengan sabun atau deterjen lunak dan air yang banyak dan dipastikan tidak ada lagi bahan yang tersisa di kulit. Pada bagian yang terbakar, lindungi luka dengan pakaian yag kering, steril dan longgar. Bila perlu, segera hubungi dokter.
3. Bila terkena mata
Bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata dikedip-kedipkan. Pastikan tidak ada lagi sisa formalin di mata. Aliri mata dengan larutan dengan larutan garam dapur 0,9 persen (seujung sendok teh garam dapur dilarutkan dalam segelas air) secara terus-menerus sampai penderita siap dibawa ke rumah sakit. Segera bawa ke dokter.
4. Bila tertelan
Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah sakit.
Cara penyimpanan formalin :
* Jangan disimpan di lingkungan bertemperatur di bawah 15 0C.
* Tempat penyimpanan harus terbuat dari baja tahan karat, alumunium murni, polietilen atau poliester yang dilapisi fiberglass.
* Tempat penyimpanan tidak boleh terbuat dari baja biasa, tembaga, nikel atau campuran seng dengan permukaan yang tidak dilindungi/dilapisi.
* Jangan menggunakan bahan alumunium bila temperatur lingkungan berada di atas 60 derajat Celsius.
Mi, Lezat Bergizi tetapi Rawan Formalin!
Oleh Prof. DR. Made Astawan, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi
http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=275&Itemid=3
Mi basah rawan terhadap penambahan formalin dan boraks. Zat kimia ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Sayangnya, kandungan formalin dan boraks hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium.
Mi pertama kali dibuat dan berkembang di Cina. Teknologi pembuatan mi disebarkan oleh Marcopolo ke Italia, hingga ke seluruh daratan Eropa. Kini mi populer di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mi yang beredar di Indonesia terdiri dari empat jenis, yaitu mi mentah, mi basah, mi kering, dan mi instan. Keempat jenis tersebut mempunyal pasar sendiri-sendiri, dengan jumlah permintaan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Di Indonesia, mi digemari herbagai kalangan, mulai anak-anak hingga lanjut usia. Alasannya. sifat mi yang enak, praktis, dan mengenyangkan.
Kandungan karbohidrat yang tinggi, menjadikan mi digunakan sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi. Mi dapat diolah menjadi berbagai produk seperti mi baso, mi goreng, soto mi, mi ayam, dan lain sebagainyaa.
Seiring perkembangan teknologi dan semakin meningkatnya kesadaran orang akan gizi, sekarang ini mi tidak hanya dijadikan sebagai penyuplai energi, melainkan juga sebagai sumber zat gizi lain. Berbagai vitamin dan mineral dapat difortifikasikan ke dalam mi. seperti yang sering kita jumpai pada pembuatan mi instan.
Walaupun demikian, kecukupan zat gizi belum dapat dipenuhi hanya dengan mengandalkan sebungkus mi. Kombinasi dengan sayuran dan sumber protein perlu dilakukan dalam upaya mendongkrak kelengkapan komposisi gizi ini.
Nilai Gizi
Diversifikasi konsumsi pangan terutama dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras.
Saat ini persediaan beras di Indonesia mulai menipis, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan semakin banyaknya lahan persawahan yang digunakan sebagai pemukiman.
Berdasarkan kandungan gizinya, mi merupakan bahan pangan yang berpotensi besar untuk dijadikan sebagai produk diversifikasi. Kandungan gizi mi sudah dapat mencukupi sebagai pengganti beras.
Sebungkus mi instan yang beratnya 75 gram (lengkap dengan minyak dan bumbu), serta ditambah dengan sayuran dan protein dari luar, dapat diandalkan untuk sarapan pagi. Untuk makan siang, porsinya perlu dinaikkan menjadi dua bungkus.
Terdapat beberapa kelemahan dalam produk-produk mi. Umumnya mi sedikit sekali mengandung serat (dietary fiber) serta vitamin B dan E. Komposisi bahan mi instan belakangan ini sudah semakin komplet. Beberapa merek mi instan telah dilengkapi dengan serat, sedikit sayuran, dan irisan daging kering, serta vitamin B dan E. Namun, kita tetap saja perlu menambahkan bahan-bahan lain dari luar, terutama sayuran dan sumber protein, agar nilai gizinya menjadi semakin baik.
Murah, Meski Berbahaya
Sayangnya, tingkat pengetahuan yang rendah mengenai bahan pengawet merupakan faktor utama penyebab penggunaan formalin dan boraks pada mi.
Beberapa survei menunjukkan, alasan produsen menggunakan formalin dan boraks sebagai bahan pengawet karena daya awet dan mutu mi yang dihasilkan menjadi lebih bagus, serta murah harganya, tanpa peduli bahaya yang dapat ditimbulkan.
Hal tersebut ditunjang oleh perilaku konsumen yang cenderung untuk membeli makanan yang harganya murah, tanpa mengindahkan kualitas. Dengan demikian, penggunaan formalin dan boraks pada mi dianggap hal biasa. Sulitnya membedakan biasa dan mi yang dibuat dengan penambahan formalin dan boraks, juga menjadi salah satu faktor pendorong perilaku konsumen tersebut.
Deteksi formalin dan boraks secara akurat hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan menggunakan bahan-bahan kimia, yaitu melalui uji formalin dan uji boraks.
Untuk itu, perlu dilakukan upaya peningkatan kesadaran dan pengetahuan bagi produsen dan konsumen tentang bahaya pemakaian bahan kimia yang bukan termasuk kategori bahan tambahan pangan. Selain itu, diperlukan sikap pemerintah yang lebih tegas dalam melarang penggunaan kedua jenis pengawet tersebut pada produk pangan.
Bisa Menimbulkan Keracunan & Kematian
Mi basah digunakan untuk produk makanan seperti mi baso, mi soto bogor, mi goreng, ataupun pada pembuatan makanan camilan. Kadar air mi basah tergolong tinggi, sehingga daya awetnya rendah.
Penyimpanan mi basah pada suhu kamar selama 40 jam menyebabkan tumbuhnya kapang.
Untuk itu, dalam pembuatan mi basah diperlukan bahan pengawet agar mi bisa bertahan lebih lama. Mungkin karena faktor ketidaktahuan banyak produsen yang menggunakan formalin atau boraks sebagai pengawet. Selain memberikan daya awet, kedua bahan tersebut juga murah harganya dan dapat memperbaiki kualitas mi.
Menurut beberapa produsen, penggunaan boraks pada pembuatan mi akan menghasilkan tekstur yang lebih kenyal. Sementara itu, penggunaan formalin akan menghasilkan mi yang lebih awet, yaitu dapat disimpan hingga 4 hari.
Laporan Badan POM tahun 2002 menunjukkan bahwa dari 29 sampel mi basah yang dijual di pasar dan supermarket Jawa Barat, ditemukan 2 sampel (6,9 persen) mengandung boraks, 1 sampel (3,45 persen) mengandung formalin, sedangkan 22 sampel (75,8 persen) mengandung formalin dan boraks. Hanya empat sampel yang dinyatakan aman dari formalin dan borak.
Isu penggunaan formalin dan boraks tentu saja sangat meresahkan masyarakat. Kedua bahan tersebut jelas-jelas bukan termasuk kategori bahan tambahan pangan (food additives), sehingga sangat dilarang penggunaannya pada pangan apa pun. Kedua bahan tersebut dilarang penggunaannya karena bersifat racun terhadap konsumennya.
Menurut Winarno dan Rahayu (1994), pemakaian formalin pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia. Gejala yang biasa timbut antara lain sukar menelan, sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, timbulnya depresi susunan saraf, atau gangguan peredaran darah.
Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah), dan haimatomesis (muntah darah) yang berakhir dengan kematian Injeksi formalin dengan dosis 100 gram dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam.
Boraks juga dapat menimbulkan efek racun pada manusia, tetapi mekanisme toksisitasnya berbeda dengan formalin. Toksisitas boraks yang terkandung di dalam makanan tidak langsung dirasakan oleh konsumen. Boraks yang terdapat dalam makanan akan diserap oleh tubuh dan disimpan secara kumulatif dalam hati, otak, atau testis (buah zakar), sehingga dosis boraks dalam tubuh menjadi tinggi (Winarno dan Rahayu, 1994).
Pada dosis cukup tinggi, boraks dalam tubuh akan menyebabkan timbulnya gejala pusing-pusing, muntah, mencret, dan kram perut. Bagi anak kecil dan bayi, bila dosis dalam tubuhnya mencapai 5 gram atau lebih, akan menyebabkan kematian. Pada orang dewasa, kematian akan terjadi jika dosisnya telah mencapai 10 - 20 g atau lebih.
Bahaya di Balik Gurihnya Ikan Asin
Menikmati sajian nasi putih ditambah sambal terasi dan lalapan segar terasa kurang lengkap tanpa ikan asin. Dengan kekayaan laut seperti Indonesia, aneka jenis ikan asin dapat diperoleh dengan mudah, dari teri, tongkol, jambal hingga cumi.
Karena harganya relatif terjangkau, bahan makanan ini sering digunakan menyiasati keterbatasan anggaran rumah tangga. Cara pengolahannya pun tergolong mudah dan dapat diolah jadi aneka jenis masakan.
Proses produksi bahan makanan juga tidak terlalu rumit dan hanya menggunakan teknologi tradisional. Para pengasin biasanya memperoleh ikan dari tempat pelelangan ikan di pelabuhan setempat. Jika hasil tangkapan ikan melimpah, setiap pengasin bisa memproduksi beberapa ton ikan asin per hari.
Usai dibersihkan, ikan-ikan dengan jenis sama lalu dimasukkan ke dalam tempayan berisi larutan garam. Takarannya, satu karung garam untuk setiap drum ikan. Perendaman bisa 12 jam hingga semalam suntuk.
Setelah larutan garam meresap, ikan kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Ikan yang telah diasinkan lalu dikemas dan dijual kepada para pengepul.
Karena jalur pemasaran dikuasai pengepul, para pengasin mengaku tidak bisa menentukan harga jual ikan mereka. ?Jadi, kadang malah nombok, hasil penjualan tidak bisa menutupi biaya produksi,? tutur Ny Ratini (33), pengasin asal Indramayu.
Jika proses penjemuran kurang sempurna, bahan makanan akan mudah ditumbuhi jamur. Bahan makanan itu pun jadi mudah penyok dan hancur, terutama apabila cara pengemasannya tidak rapi dan harus dikirim ke luar kota. Akibatnya, ikan asin itu pun tidak laku di pasaran.
Karena cara produksinya masih manual, pengeringan ikan ini sangat tergantung dari cuaca. Kalau musim hujan, pengeringan bisa berhari-hari. Begitu air hujan turun, para pekerja tergopoh-gopoh menutupi ikan-ikan yang tengah dijemur itu dengan plastik agar tidak basah. ?Hujan memang menghambat proses penjemuran ikan,? kata Ny Ratini saat ditemui di lokasi pengasinan di Muara Angke, Jakarta Utara.
Maka, belakangan banyak pengasin berulah nakal demi meraup untung. Mereka sengaja membubuhkan formalin, bahan pengawet bukan untuk makanan agar ikan tidak ditumbuhi jamur dan lebih awet. Pemakaian formalin mempercepat pengeringan dan membuat tampilan fisik tidak cepat rusak.
Dulu hanya garam
Menurut penuturan H Suwandi (42), pengasin asal Cirebon yang sehari-hari membuka usaha di Muara Angke, Jakarta Utara, semula mereka hanya memakai garam sebagai pengawet yang kemudian dijemur.
Formalin baru dipakai dalam pengolahan ikan sejak tiga tahun terakhir dari pergaulan dengan para pengolah di luar Muara Angke. Mereka membeli formalin di sejumlah toko kimia di daerah Jembatan Lima, Jakarta.
Dengan proses garam dan penjemuran, rendemen yang tersisa kurang dari separuh. Bila bahan bakunya seratus kilogram saat masih basah, setelah jadi ikan asin tinggal 40 persen atau 40 kg. Kehilangan 60 kg itu sangat merugikan karena harga jual menggunakan satuan kilogram. Jika memakai formalin, rendemen bisa mencapai 75 persen. Selisih 35 persen itu yang dikejar para pengolah.
?Pemakaian formalin ini juga atas permintaan pembeli. Soalnya, kalau pakai pengawet, ikan asin jadi kelihatan bagus, tidak lembek dan gampang rusak. Ikan yang dikasih pengawet juga tidak bau,? kata Suwandi yang merintis usaha pengolahan ikan sejak puluhan tahun silam.
Bagi pengasin, penggunaan bahan pengawet juga mempercepat proses pengeringan ikan.
Di tengah ketatnya persaingan pasar, tuntutan para pelanggan ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir ini hampir 90 persen dari total jumlah pengasin di daerah itu memakai bahan pengawet saat membuat ikan. ?Kalau tidak pakai formalin ya dagangannya tidak laku,? kata Suwandi.
Menurut catatan Kompas, sarana pengolahan ikan asin Muara Angke berdiri sejak 1984 untuk memberi fasilitas kepada para pengolah dan agar produksi ikan bisa dikontrol kebersihannya. Di areal seluas 4,5 hektar itu dibangun perumahan dua tingkat, cukup untuk dihuni 196 keluarga pengolah.
Antara tahun 1984 hingga 1999, pengolah membayar sewa Rp 26.000 per bulan. Namun, sejak tahun 2000 lalu dinaikkan jadi Rp 50.000 per bulan. Luas tiap unit 5 x 6 meter persegi.
Produksi ikan asin Muara Angke antara 30-40 ton per hari. Terdiri atas berbagai jenis ikan, antara lain jambal, teri, dan tembang. Mereka bergabung dalam Koperasi Mina Jaya yang tidak menangani pemasaran dan produksi, melainkan hanya menyediakan fasilitas pengolahan secara kredit seperti garam atau uang untuk membeli bahan baku dari nelayan.
Waspadai formalin
Pemakaian formalin dalam pengolahan ikan asin memang patut diwaspadai.
Kasus peredaran ikan asin berformalin tidak hanya ditemukan di wilayah Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga merambah ke sejumlah sentra pengolahan ikan asin di daerah lain, di antaranya Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Berdasarkan uji laboratorium yang dilakukan Sucofindo terhadap sejumlah sampel ikan asin, seluruh sampel ternyata mengandung formalin dengan kadar beragam.
Sampel ikan asin dari Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, memiliki kandungan formalin 2,36 miligram per kilogram. Sampel ikan asin dari Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, dipastikan mengandung formalin 29,22 mg/kg.
Sampel ikan asin dari Pasar Kramat Jati mengandung formalin dengan kadar 48,47 mg/kg. Bahkan, sampel ikan asin yang diambil dari Pasar Palmerah, Jakarta Barat, ternyata memiliki kadar formalin tinggi, 107,98 mg/kg.
Peredaran ikan asin di pasar modern, termasuk hipermarket, ternyata juga menunjukkan kandungan formalin 51 mg/kg.
Hasil uji laboratorium itu setidaknya mencerminkan masih tingginya tingkat peredaran ikan asin berformalin di pasaran. Padahal, formalin sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, di antaranya tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, dan diare.
Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama, dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan dan kanker.
Agar tidak salah memilih, konsumen perlu mewaspadai produk tertentu yang sering menggunakan formalin. Ikan asin yang mengandung formalin dapat diketahui lewat ciri-ciri antara lain, tidak rusak sampai lebih dari sebulan pada suhu kamar (25 derajat Celsius), bersih cerah dan tidak berbau khas ikan asin.
Sayangnya, ikan asin berformalin ini masih banyak dibeli lantaran ketidaktahuan konsumen. Sebagian pembeli juga ingin mendapatkan produk yang awet dengan harga murah.
?Konsumen jangan tidak segan-segan menanyakan kepada penjual pangan apakah produknya pakai formalin atau tidak,? kata Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (Badan POM) Dedi Fardiaz.
Seiring gencarnya sosialisasi bahaya formalin bagi keamanan bahan pangan, sebenarnya sebagian pengolah mulai memperbaiki kebersihan produksi.
Adanya ancaman hukuman penjara dan denda hingga Rp 1 miliar bagi produsen yang membuat pangan berformalin juga membuat para pengolah berpikir seribu kali untuk memakai bahan pengawet itu, termasuk para pengolah di Muara Angke.
?Sejak beberapa bulan ini sebagian besar pengolah telah menghentikan pemakaian formalin dalam memproduksi ikan asin karena takut kena hukuman. Kami sebelumnya tidak tahu kalau ternyata formalin itu berbahaya bagi kesehatan,? kata Suwandi, pengolah ikan.
Masalah baru
Namun, masalah baru kini harus dihadapi para pengolah itu. Sejak tidak memakai bahan pengawet berbahaya itu, praktis omzet penjualan mereka merosot drastis hingga mencapai lebih dari 40 persen.
Produk ikan asin yang telah dikirim pun banyak yang dikembalikan karena kondisi fisiknya telah hancur dan dianggap cacat produksi.
Dengan tidak memakai bahan pengawet, ikan asin yang diproduksi memang jadi terlihat kusam dan lembek, hanya bertahan dua minggu dan bau ikan asinnya sangat menyengat. Proses penjemuran jadi lebih lama dan rendemennya sangat sedikit sehingga berat bersih hasil olahan itu jadi jauh berkurang.
?Hasil olahan kami jadi kurang laku. Para pengepul tidak mau beli,? keluh Suwandi.
Karena itu, penerapan sanksi hukum dinilai tidak menyelesaikan masalah dalam pengolahan ikan dan membuat jera para produsen yang nakal.
?Kami berharap adanya alternatif bahan pengawet yang aman digunakan dalam pengolahan ikan. Jika tidak, ini bisa mematikan usaha kami,? kata Suwandi menegaskan. (EVY Rachmawati)
Tahu, Makanan Favorit yang Keamanannya Perlu Diwaspadai
Oleh Eddy Setyo Mudjajanto dosen Departemen Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga, Fakultas Pertanian, IPB
PENINGKATAN kualitas sumber daya manusia salah satunya ditentukan oleh kualitas pangan yang dikonsumsinya.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 menyatakan bahwa kualitas pangan yang dikonsumsi harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya adalah aman, bergizi, bermutu, dan dapat terjangkau oleh daya beli masyarakat.
AMAN yang dimaksud di sini mencakup bebas dari cemaran biologis, mikrobiologis, kimia, logam berat, dan cemaran lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Salah satu makanan yang sering dikonsumsi adalah tahu.
Tahu merupakan pangan yang populer di masyarakat Indonesia walaupun asalnya dari China. Kepopuleran tahu tidak hanya terbatas karena rasanya enak, tetapi juga mudah untuk membuatnya dan dapat diolah menjadi berbagai bentuk masakan serta harganya murah.
Selain itu, tahu merupakan salah satu makanan yang menyehatkan karena kandungan proteinnya yang tinggi serta mutunya setara dengan mutu protein hewani. Hal ini bisa dilihat dari nilai NPU (net protein utility) tahu yang mencerminkan banyaknya protein yang dapat dimanfaatkan tubuh, yaitu sekitar 65 persen, di samping mempunyai daya cerna tinggi sekitar 85-98 persen.
Oleh karena itu, tahu dapat dikonsumsi oleh segala lapisan masyarakat. Tahu juga mengandung zat gizi yang penting lainnya, seperti kemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang cukup tinggi.
Selain memiliki kelebihan, tahu juga mempunyai kelemahan, yaitu kandungan airnya yang tinggi sehingga mudah rusak karena mudah ditumbuhi mikroba. Untuk memperpanjang masa simpan, kebanyakan industri tahu yang ada di Indonesia menambahkan pengawet. Bahan pengawet yang ditambahkan tidak terbatas pada pengawet yang diizinkan, tetapi banyak pengusaha yang nakal dengan menambahkan formalin.
Selain itu, banyak juga menambahkan pewarna methanyl yellow. Formalin dan metahnyl yellow merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang penggunaannya dalam makanan menurut peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999.
Formalin
Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar 30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk sudah diencerkan, yaitu dengan kadar formaldehidnya 40, 30, 20 dan 10 persen serta dalam bentuk tablet yang beratnya masing-masing sekitar 5 gram.
Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh.
Selain itu, kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan), serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan adanya kegagalan peredaran darah. Formalin bila menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam menyesakkan, sehingga merangsang hidung, tenggorokan, dan mata.
Pewarna makanan merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki penampakan makanan. Penambahan bahan pewarna makanan mempunyai beberapa tujuan, di antaranya adalah memberi kesan menarik bagi konsumen, menyeragamkan dan menstabilkan warna, serta menutupi perubahan warna akibat proses pengolahan dan penyimpanan.
Secara garis besar pewarna dibedakan menjadi dua, yaitu pewarna alami dan sintetik. Pewarna alami yang dikenal di antaranya adalah daun suji (warna hijau), daun jambu/daun jati (warna merah), dan kunyit untuk pewarna kuning.
Kelemahan pewarna alami ini adalah warnanya yang tidak homogen dan ketersediaannya yang terbatas, sedangkan kelebihannya adalah pewarna ini aman untuk dikonsumsi.
Jenis yang lain adalah pewarna sintetik. Pewarna jenis ini mempunyai kelebihan, yaitu warnanya homogen dan penggunaannya sangat efisien karena hanya memerlukan jumlah yang sangat sedikit. Akan tetapi, kekurangannya adalah jika pada saat proses terkontaminasi logam berat, pewarna jenis ini akan berbahaya.
Selain itu, khusus untuk makanan dikenal pewarna khusus makanan (food grade). Padahal, di Indonesia, terutama industri kecil dan industri rumah tangga, makanan masih sangat banyak menggunakan pewarna nonmakanan (pewarna untuk pembuatan cat dan tekstil).
Pewarna pada tahu
Penelitian yang dilakukan oleh Mena (1994) menemukan bahwa tahu yang beredar di pasar tradisional Jakarta 70 persen mengandung formalin dengan kadar 4.08-85.69 ppm (part per million).
Penelitian Tresniani (2003) di Kota Tangerang menunjukkan terdapat 20 industri tahu yang terdiri dari 11 industri tahu kuning dan sembilan industri memproduksi tahu putih. Kandungan formalin tahu berkisar dari 2-666 ppm, sedangkan kandungan methanyl yellow-nya hanya terdapat pada tiga jenis tahu yang semuanya diperoleh dari pasar, yaitu berkisar antara 3.41-10.25 ppm.
Penelitian yang lain dilakukan oleh Melawati (2004) terhadap lima sampel tahu Sumedang yang diambil langsung dari produsen tahu yang terletak di Jalan Mayor Abdurrahman (tiga pabrik) dan Jalan 11 April (dua pabrik) semuanya menunjukkan hasil negatif atau semuanya tidak mengandung formalin. Hal ini bisa dimengerti karena produsen tidak perlu menambahkan pengawet karena tahu yang diproduksinya habis hanya dalam tempo satu hari.
Tahu kalau tidak diawetkan hanya tahan disimpan selama dua hari bila direndam dalam air sumur atau air keran yang bersih.
Beberapa cara pengawetan yang biasa dilakukan adalah:
Tahu direbus selama 30 hari kemudian direndam dalam air yang telah dimasak, daya simpannya bisa menjadi empat hari.
Tahu direbus, kemudian dibungkus plastik dan disimpan di lemari es, memiliki daya tahan delapan hari;
Tahu diawetkan dengan direndam natrium benzoat 1.000 ppm selama 24 jam dapat mempertahankan kesegaran selama tiga hari pada suhu kamar;
Tahu direndam dalam vitamin C 0,05 persen selama empat jam dapat mempertahankan tahu selama dua hari pada suhu kamar;
Tahu direndam dalam asam sitrat 0,05 persen selama delapan jam akan segar selama dua hari pada suhu kamar.
Tips memilih tahu
Tahu yang mengandung formalin dapat ditandai dengan:
Semakin tinggi kandungan formalin, maka tercium bau obat yang semakin menyengat; sedangkan tahu tidak berformalin akan tercium bau protein kedelai yang khas;
Tahu yang berformalin mempunyai sifat membal (jika ditekan terasa sangat kenyal), sedangkan tahu tak berformalin jika ditekan akan hancur;
Tahu berformalin akan tahan lama, sedangkan yang tak berformalin paling hanya tahan satu dua hari.
Tahu yang memakai pewarna buatan dapat ditandai dengan cara melihat penampakannya. Jika tahu memakai pewarna buatan, warnanya sangat homogen/seragam dan penampakan mengilap. Sedangkan jika memakai pewarna kunyit, warnanya cenderung lebih buram (tidak cerah). Jika kita potong tahunya, maka akan kelihatan bagian dalamnya warnanya tidak homogen/seragam. Bahkan, ada sebagian masih berwarna putih.*
Waspadai Adanya Makanan Berformalin di Pasaran!
Konsumen harus teliti memilih bahan makanan agar terhindar dari bahan pengawet seperti formalin. Memilih tahu misalnya, bila berbau obat dan ditekan sangat kenyal, mungkin saja mengandung formalin
BEBERAPA waktu lalu Badan Pengawasan Obat dan Makanan menemukan empek-empek dan mi basah yang dijual di beberapa tempat di Sumatera Selatan ternyata mengandung formalin.
Belum lama ini, Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Pemerintah Kota Jakarta Pusat juga mendapati puluhan ayam berformalin dijual di sejumlah pasar tradisional.
Formalin sebenarnya adalah nama dagang dari larutan formadehid dalam air dengan kadar 30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk sudah diencerkan dengan kadar formaldehid 40, 30, 20, dan 10 persen, serta dalam bentuk tablet yang beratnya masing-masing lima gram. Formalin biasanya digunakan dokter forensik untuk mengawetkan mayat.
Mengapa sampai para pedagang membubuhi formalin pada dagangannya?
Mungkin mereka akan bungkam jika ditanya demikian. Namun, jika menilik formalin biasa digunakan untuk mengawetkan mayat, bisa diduga para pedagang ingin agar dagangannya tahan lama. Setidaknya, jika barang tidak laku hari ini, ayam atau tahu yang telah diformalin bisa dijual kembali keesokan harinya dan tetap terlihat segar.
Ini baru formalin pada bahan pangan. Masih ada sederet bahan tambahan atau kimia yang kerap dibubuhkan dalam makanan, seperti rhodamin B (pewarna merah), methanyl yellow (pewarna kuning), boraks, kloramfenikol, dietilpilokarbonat, dulsin, dan nitrofurazon. Padahal, penggunaan bahan-bahan kimia makanan tersebut sudah dilarang menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999.
Perhatikan cirinya
Monitoring sebenarnya sudah dilakukan petugas terkait dengan mengambil sampel bahan secara acak ke sejumlah pedagang pasar tradisional atau pedagang jajanan sekolah. Pasar swalayan juga menjadi sasaran inspeksi mendadak para petugas.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan DKI Jakarta Edy Setiarto dan Kepala Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Pusat (Jakpus) Sigit Budiarto secara terpisah mengatakan, pemerintah mempunyai program memonitoring para penjual makanan ternak di pasar-pasar tradisional. Bagi yang tertangkap basah menjual bahan makanan berformalin, misalnya ayam, akan disita dan dibakar di tempat pembakaran. Di Jakpus misalnya, insenerator terletak di halaman kantor Kecamatan Senen.
Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dedi Fardiaz mengatakan, BPOM bertugas menyurvei makanan olahan atau jajanan. ?Hasil survei menjadi dasar untuk membina para pedagang,? katanya.
BPOM antara lain menyurvei segala jenis makanan yang dikonsumsi anak sekolah. Di sini dilihat apakah makanan olahan atau jajanan tersebut mengandung pewarna berbahaya atau tidak. Ini, menurut Dedi, penting dilakukan mengingat dampaknya terhadap kesehatan.
Agar tidak tertipu produk berbahaya itu, masyarakat sebaiknya berhati-hati dan memerhatikan ciri-ciri serta perbedaan antara bahan pangan segar dan yang mengandung bahan pengawet.
?Kalau ayam berformalin, ciri yang paling mencolok adalah tidak ada lalat yang mau hinggap. Jika kadar formalinnya banyak, ayam agak sedikit tegang (kaku). Yang paling jelas adalah jika daging ayam dimasukkan ke dalam reagen atau diuji laboratorium, nanti akan muncul gelembung gas,? papar anggota staf Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Feteriner Sudin Peternakan dan Perikanan Jakpus Elita Gunarwati.
Para pedagang biasanya membubuhi formalin dengan kadar minimal, sehingga konsumen pada umumnya bingung ketika harus membedakannya dengan bahan pangan segar. Pada daging ayam misalnya, karena hanya dibubuhi sedikit formalin, bau obat tidak tercium.
Untuk itu, masyarakat harus lebih waspada dan bisa memilih dengan baik. ?Seperti yang dilakukan ibu-ibu di Pasar Benhil, Jakarta Pusat. Mereka biasanya memilih membeli ayam hidup dan langsung dipotong di tempat,? kata Sigit.
Konsumen juga harus berhati-hati jika menemui ayam atau daging yang dijual dengan harga relatif jauh lebih murah daripada harga pasaran. Kemungkinan bahan pangan ini mengandung bahan pengawet berbahaya. Kalau membeli dalam jumlah banyak, misalnya untuk hajatan, pastikan pedagangnya layak dipercaya. Seberapa pun sempitnya waktu, sebaiknya Anda tetap meneliti ayam atau daging yang dibeli satu per satu.
Tahu berformalin
Untuk mendeteksi tahu berformalin relatif lebih mudah .
Dosen Departemen Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Fakultas Pertanian IPB Eddy Setyo Mudjajanto dalam artikelnya menyebutkan, tahu berformalin akan membal atau kenyal jika ditekan. Sedangkan tahu tanpa formalin biasanya mudah hancur.
Tahu berformalin akan tahan lama, sedangkan tahu tanpa pengawet paling-paling hanya tahan dua hari. Tahu tanpa pengawet bisa lebih lama bertahan jika disimpan dalam kulkas, atau dibubuhi pengawet yang dianjurkan. Bahan pengawet tersebut seperti vitamin C 0,05 persen (tahu diberi pengawet selama empat jam), natrium benzoat 1.000 ppm (selama 24 jam), atau asam sitrat 0,05 persen (selama delapan jam).
Memang orang yang mengonsumsi tahu, mi, bakso, atau ayam berformalin beberapa kali saja belum merasakan akibatnya. Efek dari bahan makanan berformalin baru terasa beberapa tahun kemudian.
Kandungan formalin yang tinggi akan meracuni tubuh, menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsiogenik (menyebabkan kanker), dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel). Dalam kadar yang sangat tinggi, hal ini bisa menyebabkan kegagalan peredaran darah yang bermuara pada kematian.
Mengonsumsi makanan apa pun sebaiknya Anda memilih dengan cermat. Namun sebaliknya, jangan pula karena begitu khawatir, Anda menjadi takut secara berlebihan. Masih banyak pedagang yang jujur dan bisa mempertanggungjawabkan barang dagangannya. (IVV)
Bahaya Di Balik Piring-piring Cantik!
ova
Anda suka pakai peralatan makan dari melamin? Hati-hati, lo, karena dibalik sosoknya yang cantik serta harganya yang murah meriah, ada bahaya mengintai. Banyak yang mengandung formalin berkadar tinggi yang membahayakan kesehatan.
Bagaimana menyiasatinya agar aman?
Beberapa waktu lalu, Yayasan Lembaga Konsumen (YLKI) melansir hasil penelitian mengenai kandungan formalin dalam wadah-wadah melamin. Penelitian yang dilakukan bulan September 2004 lalu itu membuahkan hasil yang mengejutkan. Peralatan makan dari melamin yang kini amat mudah ditemui di pasaran, banyak yang mengandung formalin dalam konsentrasi tinggi.
Ilyani S. Andang, peneliti YLKI, menegaskan, penelitian dilakukan terhadap 10 merek produk melamin. “Enam merek diantaranya adalah produk impor, sedangkan sisanya adalah produk lokal,” ujarnya.
Produk yang diambil contoh adalah peralatan makan yang dijual di pasar-pasar tradisional serta pertokoan yang dijual dengan harga murah. “Ada yang Rp 10.000 dapat tiga buah.”
Ilyani dan tim-nya sengaja memilih produk-produk yang beragam. “Ada yang dengan jelas mencantumkan merek, ada pula yang tidak,” imbuhnya. Dari yang tidak ada mereknya ini, banyak yang hanya mencantumkan nomor-nomor.
“Enggak tahu juga apa artinya nomor-nomor tersebut. Tapi yang jelas produk-produk tersebut tidak bisa diketahui siapa yang memproduksi.”
Formalin Tinggi
Contoh-contoh produk yang akan diteliti kemudian disiram dengan air panas.
“Tetapi ternyata tidak cukup hanya disiram dengan air panas, karena formalin sifatnya cepat menguap, sehingga tidak bisa diteliti,” urai Ilyani mengenai mekanisme penelitian yang dilakukannya. Akhirnya, Ilyani memutuskan untuk merebus wadah-wadah tersebut, dengan pertimbangan, “Para ibu rumahtangga suka merebus peralatan makannya untuk sterilisasi, bukan?”
Dari hasil air rebusan yang kemudian dibawa ke Laboratorium Kimia Universitas Indonesia, ini didapatkan hasil, bahwa kandungan formalin pada hampir semua produk yang diteliti, ternyata sangat tinggi.
“Nilainya beragam, antara 4,76 9,22 miligram per liter,” ungkap Ilyani. Tingginya kandungan formalin ini sangat berbahaya jika sampai terkonsumsi. “Akumulasi formalin yang tinggi di dalam tubuh bisa menyebabkan beragam penyakit. Bahkan penyakit kanker yang mematikan.”
Dari kenyataan tersebut, Ilyani khawatir, jika para konsumen tidak tahu cara yang tepat menggunakan piranti melamin tersebut, akan terkena dampak negatif dari tingginya kadar formalin yang terdapat di sana.
“Sebetulnya, asal tidak dipakai untuk makanan atau minuman panas, sih, aman-aman saja. Yang bahaya, kan, jika wadah-wadah ini dipakai untuk menaruh bahan makanan panas,” paparnya, sembari mencontohkan, perangkat melamin kerap digunakan untuk membuat minuman teh, kopi, atau makanan berkuah panas.
Di Sekitar Kita
Apa itu formalin? Menurut Drs. Bambang Wispriyono, Apt, PhD, formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kandungan 30-40 persen .
Di pasaran, formalin bisa ditemukan dalam bentuk yang sudah diencerkan, dengan kandungan formaldehid 10-40 persen. “Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di industri makanan, misalnya, formalin dipakai untuk membuat makanan lebih awet. Misalnya saja untuk tahu, mi, atau bakso.”
Di industri kecantikan formalin biasa dipakai di produk cat kuku. “Di perikanan, formalin digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik ikan,” ungkap Wakil Dekan I Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini.
Menurut Bambang, formaldehid memiliki banyak fungsi, diantaranya sebagai pengawet, serta anti bakteri. “Formaldehid juga dipakai untuk reaksi kimia yang bisa membentuk ikatan polimer, dimana salah satu hasilnya adalah menimbulkan warna produk menjadi lebih “muncul”. Itu sebabnya formaldehid dipakai di industri plastik.”
Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan, yaitu mulut dan pernapasan. “Sebetulnya, sehari-hari kita menghirup formalin dari lingkungan sekitar.” Kata Bambang, polusi yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang mau tidak mau kita hirup, kemudian masuk ke dalam tubuh. “Begitupula dari asap rokok,” tandasnya. Bahkan, air hujan yang jatuh ke bumi pun sebetulnya mengandung formalin.
Sebabkan Kanker
Di dalam tubuh, jika terakumulasi dalam jumlah besar, formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia.
Jika kandungan dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel, sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh.
Bambang menegaskan, akumulasi formalin yang tinggi di dalam tubuh akan menyebabkan berbagai keluhan, misalnya iritasi lambung dan kulit, muntah, diare, serta alergi. “Bahkan bisa menyebabkan kanker, karena formalin bersifat karsinogenik.”
Khusus mengenai sifatnya yang karsinogenik, Bambang mengingatkan, formalin termasuk ke dalam karsinogenik golongan IIA. “Golongan I adalah yang sudah pasti menyebabkan kanker, berdasarkan uji lengkap. Sedangkan golongan IIA baru taraf diduga, karena data hasil uji pada manusia masih kurang lengkap.”
Bambang menekankan, dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. “Itu sebabnya formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah.”
Tetapi, Bambang mengingatkan, imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. “Jika imunitas tubuh rendah, sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan,” cetusnya.
Menanggapi hasil penelitian YLKI, Bambang sedikit ragu melihat angkanya yang dinilainya sangat tinggi. “Apa betul, ya, angkanya segitu? Jika betul, itu berarti tinggi sekali, lo. Menurut IPCS (International Programme on Chemical Safety), secara umum ambang batas aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter,” tandasnya. Perlu diketahui, IPCS adalah lembaga khusus dari tiga organisasi di PBB, yaitu ILO, UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan pada keselamatan penggunaan bahan kimiawi.
Meskipun diakui berbahaya jika terakumulasi di dalam tubuh, namun Bambang melihat, sangatlah tidak bijaksana jika melarang penggunaan formalin. “Bagaimanapun, industri memerlukan formalin,” katanya. “Yang penting, kita harus bijaksana dalam menggunakannya, misalnya dengan cara tidak menggunakannya pada makanan.”
BAGAIMANA MENYIKAPINYA?
1. Tenang
Meskipun harus waspada, hendaknya jangan lantas menjadi paranoid, alias curigaan. “Tidak perlu lah sampai harus emoh memakai perangkat melamin sama sekali. Itu namanya paranoid. Lagipula, tidak semua wadah melamin mengandung formalin berlebihan, bukan?” kata Bambang. Yang penting, menurutnya, konsumen harus jeli dengan memperhatikan kualitas barang serta harganya. “Kalau produknya mudah sekali pudar atau kusam, itu berarti bahannya banyak yang terkikis. Produk seperti ini perlu dihindari.”
2. Dingin
Jika tidak yakin akan kualitas produk melamin yang Anda punya, sebaiknya jangan gunakan piranti makan tersebut untuk makanan serta minuman panas. “Untuk makanan dingin, sih, aman-aman saja, karena formalin yang sudah membentuk polimer sulit untuk terurai. Kalaupun terurai, pasti tidak 100 persen,” papar Bambang.
3. Cermat
Dalam mengonsumsi bahan makanan, pilihlah yang tidak mengandung formalin. “Kalau tahu tahan sampai berhari-hari, diduga keras mengandung formalin,” ujar Bambang. Menurut situs WHO (lembaga PBB yang khusus menangani kesehatan), sebetulnya, makanan yang mengandung formalin memiliki bau yang khas, sehingga bisa dideteksi oleh orang awam sekalipun.
4. Pengawet Lain
Sebisanya, hindari penggunaan formalin sebagai bahan pengawet. “Jika bisa diganti dengan pengawet lain, itu lebih baik,” saran Bambang. (Tabloid Nova)
Melamin, Piring Cantik yang Menyimpan Racun
Di banyak toko yang menjual perabot rumah tangga, peralatan makan dan minum yang disebut melamin relatif mudah ditemukan.
Kalau sekitar tahun 1970-1980-an melamin masih terbatas warna maupun coraknya, maka kini desain melamin bisa bersaing dengan barang pecah belah lainnya.
Produk pecah belah melamin begitu banyaknya sehingga barang ini tak hanya bisa dibeli di toko tertentu, tetapi juga di pasar tradisional sampai di pedagang kaki lima.
Cikal bakal melamin dimulai tahun 1907 ketika ilmuwan kimia asal Belgia, Leo Hendrik Baekeland, berhasil menemukan plastik sintesis pertama yang disebut bakelite. Penemuan itu merupakan salah satu peristiwa bersejarah keberhasilan teknologi kimia awal abad ke-20.
Pada awalnya bakelite banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan telepon generasi pertama. Namun, pada perkembangannya kemudian, hasil penemuan Baekeland dikembangkan dan dimanfaatkan pula dalam industri peralatan rumah tangga. Salah satunya adalah sebagai bahan dasar peralatan makan, seperti sendok, garpu, piring, gelas, cangkir, mangkuk, sendok sup, dan tempayan, seperti yang dihasilkan dari melamin.
Peralatan makan yang terbuat dari melamin di satu sisi menawarkan banyak kelebihan. Selain desain warna yang beragam dan menarik, fungsinya juga lebih unggul dibanding peralatan makan lain yang terbuat dari keramik, logam, atau kaca. Melamin lebih lebih ringan, kuat, dan tak mudah pecah. Harga peralatan melamin pun relatif lebih murah dibanding yang terbuat dari keramik misalnya.
Potensi formalin
Dengan segala kelebihan melamin, tak heran kalau sebagian orang tidak menyadari bahwa melamin menyimpan potensi membahayakan bagi kesehatan manusia.
Menurut pengajar pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, Bambang Ariwahjoedi PhD, MSc, melamin berpotensi menghasilkan monomer beracun yang disebut formaldehid (formalin).
Selain berfungsi sebagai bahan pengawet, formaldehid juga digunakan untuk bahan baku melamin. Menurut Ariwahjoedi, melamin merupakan suatu polimer, yaitu hasil persenyawaan kimia (polimerisasi) antara monomer formaldehid dan fenol. Apabila kedua monomer itu bergabung, maka sifat toxic dari formaldehid akan hilang karena telah terlebur menjadi satu senyawa, yakni melamin.
Berdasarkan kerja sama penelitian antara Universitas Indonesia dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), diketahui kandungan formaldehid dalam perkakas melamin mencapai 4,76?9,22 miligram per liter.
?Permasalahannya, dalam polimerisasi yang kurang sempurna dapat terjadi residu, yaitu sisa monomer formaldehid atau fenol yang tidak bersenyawa sehingga terjebak di dalam materi melamin. Sisa monomer formaldehid inilah yang berbahaya bagi kesehatan apabila masuk dalam tubuh manusia,? ujar Ariwahjoedi.
Dalam sistem produksi melamin yang tidak terkontrol, bahan formaldehid yang digunakan cenderung tidak sebanding dengan jumlah fenol. Maka, kerap terjadi residu.
Ini bukan berarti proses produksi yang sudah menerapkan well controlled dan tidak menghasilkan residu terbebas dari potensi mengeluarkan racun. Menurut Ariwahjoedi, formaldehid di dalam senyawa melamin dapat muncul kembali karena adanya peristiwa yang dinamakan depolimerisasi (degradasi). Dalam peristiwa itu, partikel-partikel formaldehid kembali muncul sebagai monomer, dan otomatis menghasilkan racun.
Ariwahjoedi menjelaskan, senyawa melamin sangat rentan terhadap panas dan sinar ultraviolet. Keduanya sangat berpotensi memicu terjadinya depolimerisasi. Selain itu, gesekan-gesekan dan abrasi terhadap permukaan melamin juga berpotensi mengakibatkan lepasnya partikel formaldehid.
Ariwahjoedi menambahkan, formaldehid sangat mudah masuk ke tubuh manusia, terutama secara oral (mulut). Formaldehid juga dapat masuk melalui saluran pernapasan dan cairan tubuh.
Monomer formaldehid yang masuk ke tubuh manusia berpotensi membahayakan kesehatan. ?Formalin kan berfungsi untuk membunuh bakteri. Kalau bakteri saja tidak bisa hidup, berarti tinggal selangkah lagi meracuni makhluk yang lain,? ungkapnya berilustrasi.
Formaldehid yang masuk ke dalam tubuh dapat mengganggu fungsi sel, bahkan dapat pula mengakibatkan kematian sel.
Dalam jangka pendek, hal ini bisa mengakibatkan gejala berupa muntah, diare, dan kencing bercampur darah. Sementara untuk jangka panjang, akumulasi formaldehid yang berlebih dapat mengakibatkan iritasi lambung, gangguan fungsi otak dan sumsum tulang belakang. Bahkan, fatalnya dapat mengakibatkan kanker (karsinogenik). (d10)
Perabotan Impor: Berbahaya, Kandung Formalin!
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menilai sejumlah produk perabotan rumah tangga yang terbuat dan melamin mengandung formalin (formaldehid).
Kandungan formalin dalam perabotan impor itu mencapai 4,76 - 9,22 miligram per liter.
?Ironisnya, perabotan itu digunakan sebagai wadah makanan dan minuman, terutama anak-anak. Kalau tercampur air panas, zat kimia pada peralatan itu akan bereaksi dan menyebabkan konsumen yang menggunakannya dapat menderita sakit kepala, gangguan pernapasan, dan memicu kanker,? kata peneliti YLKI Ilyani S Andang di Jakarta, Selasa (28/6).
Ilyani menyebutkan, kandungan unsur berbahaya itu diketahui YLKI dari hasil kerja samanya dengan peneliti dari laboratorium Universitas Indonesia. Faktor keamanan dan penggunaan perabotan itu tidak pernah diinformasikan secara jelas. Pengawasan pemerintah terhadap asal-muasal dan dampak negatif produk itu pun tidak ketat.
Perabotan rumah tangga itu semakin membanjiri pasar tradisional dan swalayan. Produknya, antara lain, berupa sendok, garpu, gelas, piring, dan mangkuk. Penawaran harganya pun sangat menggiurkan.
Di Pasar Pagi Glodok, Jakarta Barat, misalnya, mangkok melamin dijual seharga Rp 24.000 per lusin, gelas lengkap dengan tutupnya Rp 80.000 - Rp 90.000 per lusin. Ada juga yang menjual secara eceran.
Tanpa peduli bahayanya bagi kesehatan, pedagang tetap menawarkan bahwa perabotan itu tahan air panas. (OSA) .”
Sumber : Milis IF’99



Saya seorang mahasiswi yang belajar di bidang yang sama yakni tentang teknologi pangan. Saya mau menanyakan pendapat di atas. Sepengetahuan saya, bahan dasar mi adalah terigu, dan terigu dari gandum. Jika mi digunakan untuk pengganti beras, sama dengan meningkatkan pemakaian terigu dan akhinya meningkatkan impor terigu (gandum). Bukannya kita tidak bisa menghasilkan gandum sendiri? Jadi bukannya malah akan meningkatkan biaya impor? Bukannya justru menimbulkan ketergantungan pada impor dari luar negeri? Sekian dan terima kasih.